Untuk menghidupi keluarga kecilku, aku harus berjuang sendiri. Suamiku telah pergi meninggalkanku bersama wanita yang lain. Ada anak laki-laki berumur 7 tahun yang harus kutanggung, ada pula bayi yang ada di dalam kandunganku.
Untuk kehidupan keluarga kecilku, aku berjualan ke pasar. Setiap hari, aku harus memanggul daganganku ke pasar. Tahu sendiri, pendapatan jadi tak menentu. Tapi aku harus berjuang demi anak-anakku. Jadi ketika kakiku suatu hari terkena paku, aku tetap harus berjualan. Tak peduli apapun keadaannya, aku harus bisa menghidupi keluargaku.
Aku seringkali harus memaksakan diriku sendiri. Aku harus berjuang. Meskipun makanan yang kami makan tidak selalu enak, bahkan kadang hanya seadanya, tapi aku tak mau menyerah.
Suatu hari menjelang kelahiran anak keduaku, anak pertamaku jatuh demam. Aku sendiri sedang sakit dan tidak ada orang lain di rumahku. Aku bingung harus bagaimana, apalagi kandunganku sudah semakin membesar.
Tapi aku melihat kebesaran Tuhan saat itu. Meskipun giziku tak terpenuhi sebagai seorang ibu yang sedang hamil, suatu hari ketika aku ngulet, anak keduaku langsung keluar. Aku tak merasakan sakit sedikitpun, bahkan aku sendiri yang memotong ari-arinya. Aku juga yang membersihkan darah yang menempel di tubuh anakku dan di rumah tempat aku melahirkan.
Tuhan juga kembali bertindak karena secara ajaib anak pertamaku sembuh dari demamnya. Jadi, saat itu aku menyuruhnya untuk memanggil bidan ke rumah. Tapi bidannya sampai saat aku sudah selesai bersih-bersih dan memotong ari anakku.
Di dalam setiap hidup kita, ada keajaiban Tuhan yang kita rasakan. Nafas yang kita hirup inipun sebuah keajaiban. Bersyukurlah dan nikmatilah. Dekat terus dengan-Nya untuk mengalami hal itu lebih lagi, agar kita pun bisa membagikannya pada yang lain.
*kisah ini diadaptasi dari cerita nyata seorang teman
No comments:
Post a Comment